KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM

Pengertian Konservasi

Konservasi adalah pengelolaan manusia atas pemanfaatan organisme atau ekosistem sedemikian rupa sehingga pemanfaatan atau pemakaian yang bersangkutan berkelanjutan. Di samping pemakaian berkelanjutan, pelestarian juga meliputi perlindungan, pemeliharaan, rehabilitasi, restorasi dan peningkatan populasi serta ekosistem. Konservasi sumberdaya alam diartikan sebagai pengelolaan sumberdaya alam  yang menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan bagi sumberdaya  terbarui menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya. Adapun tindakan konservasi adalah dengan melakukan perencanaan terhadap pengambilan sumberdaya alam  yaitu melalui pengambilan terbatas dan pencegahan pengurasan, eksploitasi sumberdaya alam  secara efisien dengan limbah sedikit mungkin, mengembangkan sumberdaya alam  alternatif/pengganti untuk substitusi, menggunakan unsur teknologi yang sesuai dalam mengeksploitasi sumberdaya alam  untuk menghemat penggunaan sumberdaya alam  dan tidak merusak lingkungan serta mengurangi, membatasi dan mengatasi pencemaran lingkungan. Umumnya pengambilan sumberdaya alam  dilakukan secara besar-besaran (deplisi), yang biasanya demi memenuhi kebutuhan akan bahan mentah.

Menurut Gifford Pinchot, konservasi adalah penggunaan sumberdaya alam  untuk kebaikan secara optimal dalam jumlah yang terbanyak dan untuk jangka waktu yang paling lama, sebagai pengembangan dan proteksi terhadap sumberdaya alam.  Sementara Prof. Wintrop menyatakan konservasi sumberdaya alam  bukanlah memelihara persediaan secara permanen tanpa pengurangan dan perusakan sumberdaya alam.

Pandangan Terhadap Ketersediaan Sumberdaya Alam

Perbedaan pandangan terhadap ketersediaan sumberdaya alam  menyebabkan timbulnya  kelompok pesimis dan kelompok optimis dalam kaitannya dengan sumberdaya alam.  Bagi kelompok pesimis, memandang bahwa dunia ini terbatas, sehingga terbatas pula sumberdaya alam dan ketersediaan barang produksi bagi kebutuhan manusia. Hampir semua kegiatan produksi saat ini pertumbuhannya bersifat ekponensial. Produksi barang dan jasa pasti akan berhenti bila batas persediaan sumberdaya alam tidak tercapai. Batas persediaan sumberdaya alam  tersebut akan tiba masanya. Dampak dalam proses menuju batas bersifat kehancuran dan harus ada usaha mengubah tendensi pertumbuhan eksponensial dan membatasi kegiatan manusia dengan batasan alamiah.

Bagi kelompok optimis memandang bahwa sumberdaya alam yang tersedia masih melimpah, terutama sumberdaya yang dapat diperbaharui, diperlukannya teknologi untuk penemuan cara produksi yang baru, daur ulang, menemukan sumberdaya alam yang baru dan menemukan sumberdaya alam substitusi atau alternatif. Terkait dengan pemanfaatan sumberdaya alam untuk tujuan ekonomi dengan tetap menjaga kelestarian sumberdaya alam maka perlu diperhatikan, 1) harus ada produksi maksimum yang dapat dilaksanakan secara periodek tanpa mempengaruhi pertumbuhan alami, 2) tidaklah ekonomis untuk meningkatkan atau menstabilkan pertumbuhan alami beserta produksi dengan cara tertentu, misalnya menggunakan perbaikan lingkungan, pemberian makan dan lain-lain, dan 3) biaya untuk produksi dan permintaan terhadap produk tidak ekonomis sifatnya bila dilaksanakan di bawah jumlah produksi maksimum menurut kondisi alami.

Adapun standar minimum yang aman untuk dilakukannya konservasi yaitu dirancang untuk menghindari daerah kritis agar dicapai adanya tingkat adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lokal serta adanya kemudahan dalam pemahaman bagi para pemakai lokal sumberdaya alam dan dapat meminimalisir biaya sosial dari masyarakat. 

 Pengaruh Variabel Ekonomi Terhadap Konservasi Sumberdaya Alam

Konservasi sumberdaya alam merupakan fungsi dari tingkat bunga, hedging, perpajakan, kebijakan harga, hak pengusahaan, sewa, pasar dan instabilitas ekonomi. Secara sederhana dapat dinotasikan sebagai :

Konservasi SDA = ∫(interest, hedging, Tax, Price, Property Right, Rent, Market, Instability of Economic ). 

Jika tingkat bunga (interest) meningkat maka kegiatan konservasi sumberdaya alam dapat menurun karena orang lebih  bergairah terhadap kegiatan perbankan dan sebaliknya. Hedging terkait dengan ketidakpastian dan espectation masa datang yang terkait dengan tingkat bunga, jika diskonto uncertainty meningkat maka akan lebih meningkatkan distribusi dari sumberdaya alam saat ini, sebaliknya jika diskonto uncertainty rendah maka dapat dialihkan pada kegiatan konservasi sebagai jaminan distribusi sumberdaya alam di masa mendatang.

Kondisi perpajakan juga berpengaruh terhadap konservasi, dengan naiknya tingkat pajak bagi sumberdaya alam maka harga sumberdaya alam mengalami peningkatan. Sebagai akibatnya timbul eksploitasi besar-besar terhadap sumberdaya alam (deplisi). Seharusnya pengenaan pajak bagi sumberdaya alam adalah pajak tak langsung, dengan demikian harga sumberdaya alam dapat ditekan dan kegiatan konservasi dapat dijalankan. Kebijakan harga sumberdaya alam juga berpengaruh, jika trend harga sumberdaya alam pada masa mendatang mengalami kenaikan, maka adalah tepat bagi adanya konservasi.

Hak penguasaan asset sumberdaya alam dapat menentukan kebijakan akan perlu tidaknya kegiatan konservasi. Pada hakikatnya terdapat empat macam hak penguasaan sumberdaya yang sangat berbeda satu sama lain. Pertama, milik negara (state property), dalam kaitan ini setiap individu mempunyai kewajiban untuk mematuhi aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau departemen yang mengelola sumberdaya tersebut. Demikian pula, pemerintah atau departemen yang bersangkutan mempunyai hak untuk memutuskan aturan main penggunaannya. Kedua, milik pribadi (private property). Individu memiliki hak untuk memanfaatkan sumberdaya sesuai dengan aturan  dan norma yang berlaku serta mempunyai kewajiban untuk menghindari pemanfaatan yang eksesif dan tidak dapat dibenarkan menurut kaidah yang berlaku. Ketiga, milik umum (common property). Kelompok masyarakat yang berhubungan dengan sumberdaya milik umum mempunyai hak untuk tidak mengikutsertakan individu lain yang bukan berasal dari kelompok itu, di samping kewajiban untuk mematuhi statusnya sebagai orang luar. Setiap anggota kelompok masyarakat yang terikat dalam sistem sosial tertentu untuk mengelola sumberdaya mempunyai hak dan kewajiban untuk memelihara kelestariannya sesuai dengan aturan yang disepakati bersama, dan keempat: tak bertuan (open acces). Dalam hal ini tidak ada unsur kepemilikan atas sumberdaya tersebut sehingga setiap orang dari kelompok sosial manapun hanya memeliki privilis, siapa cepat dia dapat namun bukan hak.

Selanjutnya jika nilai sewa sumberdaya alam mengalami kenaikan maka upaya penyewa untuk mendapatkan hasil sumberdaya alam yang sebesar-besarnya untuk jangka pendek. Bentuk pasar sumberdaya alam dan ketidakstabilan perekonomian jelas akan memberikan pengaruh nyata bagi pengimplementasian konservasi sumberdaya alam.

REFERENSI YANG DIANJURKAN

Arifin, B, 2001, Pengelolaan Sumberdaya Alam Indonesia; Prespektif Ekonomi, Etika dan Praksis Kebijakan, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Satriago, H, 1996, Himpunan Istilah Lingkungan Untuk Manajemen, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Suparmoko, M, 1997, Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan; Suatu Pendekatan Teoritis, Edisi Ketiga, BPFE-UGM, Yogyakarta

Yakin, A, 2004, Ekonomi Sumber daya Alam dan Lingkungan Teori dan Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan, Akademika Presindo, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: