PENDEKATAN SOSIO EKONOMI

Tujuan Instruksional Khusus

Pokok bahasan ini berupaya menjelaskan konsep umum tentang :

  1. Konsep-konsep Sosio Ekonomi
  2. Jenis Masyarakat Ekonomi
  3. Keterlekatan Perilaku Ekonomi Dalam Hubungan Sosial

1.  Konsep – konsep Sosio-Ekonomi

Sosiologi ekonomi adalah studi tentang bagaimana cara orang atau masyarakat memenuhi kebutuhannya atas jasa dan barang langka dengan menggunakan pendekatan sosiologi. Dari pengertian ini, sosiologi ekonomi berkaitan dengan fenomena ekonomi dan pendekatan sosiologis. Fenomena ekonomi adalah gejala bagaimana cara orang/masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya atas barang dan jasa. Cara yang dimaksud adalah semua aktivitas orang/masyarakat yang berkaitan dengan produksi, distribusi, pertukaran, konsumsi jasa dan barang yang langka.

Secara rinci, Swedbwerg menuliskan fenomena-fenomena ekonomi tersebut terdiri dari konsumsi dan produksi, produktivitas dan inovasi teknologi, pasar, kontrak, uang, tabungan, organisasi ekonomi (bank, koperasi) kehidupan dalam tempat kerja, pembagian kerja dan segregasi pekerjaaan, kelas ekonomi, ekonomi internasional, ekonomi dan masyarakat luas, dampak faktor gender dan etnik terhadap ekonomi, kekuatan ekonomi dan ideologi ekonomi. Berbeda dengan pendekatan sosiologis adalah kerangka acuan, variabel-variabel dan model-model yang digunakan oleh para soisolog untuk memahami dan menjelaskan kenyataan sosial atau fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Dalam memahami dan menjelaskan kenyataan atau fenomena yang terjadi dalam masyarakat, pendekatan yang digunakan oleh sosiolog berbeda dengan para ekonom. Perbedaan tersebut disebabkan adanya perbedaan metodelogis, sejarah ilmu dan cara menyikapi kegiatan praktis.

Dalam menjelaskan transaksi ekonomi, para ekonom lebih menekankan pada individu, sedangkan titik tolak para sosiolog adalah kelompok, institusi dan masyarakat. Mikroekonomi mengasumsikan bahwa aktor tidak dihubungkan dan dipengaruhi oleh faktor lain. Aktor diasumsikan memiliki seperangkat pilihan dan preferensi uyang telah tersedia dan stabil. Tindakan aktor ditujukan untuk memaksimalkan pemanfataan individu dan keuntungan perusahaan . Sementara dalam sosiologi, tindakan ekonomi mencakup beberapa kemungkinan tipe, yaitu rasional, spekulatif-rasional, dan tradisional.

Yang tersebut terakhir oleh ekonomi tidak dianggap sebagai tindakan ekonomi. Para ekonomi memberi sedikit perhatian pada aspek kekuasaan, sedangkan sosiolog memberikan porsi yang besar terhadap kekuasaan. Dalam pandangan ekonomi, tindakan ekonomi juga dibatasi oleh selera dan kelangkaan sumberdaya. Sementara, sosiolog melihat bahwa tindakan tidak hanya dipengaruhi oleh sumberdaya, melainkan juga dipengaruhi oleh aktor-aktor lain yang akan menghambat atau memudahkan tindakan ekonomi dalam pasar atau dalam sistem patron-klien.

Sosiologi ekonomi memusatkan perhatiannya pada tiga hal, yaitu pertama; analisis sosiologis terhadap proses ekonomi, misalnya proses pembentukan harga pelaku ekonomi, kedua; analisis hubungan dan interaksi antara ekonomi dan instansi lain dari masyarakat, misalnya hubungan antara ekonomi dengan agama dan ketiga; studi tentang perubahan institusi dan parameter budaya yang menjadi konteks bagi landasan ekonomi masyarakat misalnya semangat kewirausahaan di kalangan santri.

2.  Jenis Masyarakat Ekonomi

Penggolongan masyarakat secara ekonomi  dalam perspektif historisnya dibagi menjadi:

  1. Masyarakat Pra industri. Berdasarkan evolusi teknologi subsistensi atau teknologi yang secara langsung berkaitan dengan usaha menopang hidup  masyarakat, maka tahap masyarakat ekonomi praindustri adalah a) masyarakat pemburu dan peramu, b) masyarakat hortikultura sederhana, c) masyarakat hortikultura intensif, d) masyarakat agraris dan e) masyarakat pastoralis.
  2. Masyarakat Pra kapitalis, dibagi menjadi empat pola kepemilikan yaitu a) keluarga primitif, b) pemilikan keluarga besar, c) pemilikan oleh pemimpin dan d) pemilikan seignerial. Sementara pada pola distribusi kepemilikan terbagi menjadi resiprositas, redistribusi murni, redistribusi parsial dan ekpropriasi.

Stratifikasi sosial muncul karena adanya ketidaksamaan status dalam masyarakat, yang dapat didasarkan pada kekayaan, kehormatan, kekuasaan dan ilmu pengetahuan. Menurut Talcott Parson, stratifikasi memiliki peran penting bagi masyarakat dalam mengatasi keterbatasan mereka. Dengan adanya stratifikasi, individu akan melakukan peran pemimpin dan untuk itu akan memperoleh ganjaran berupa hak istimewa dan prestise.

Dengan demikian, stratifikasi merupakan alat yang diperlukan untuk memusatkan aktivitasnya guna memecahkan masalah dan menghadapi tantangan. Semakin besar tantangan dan masalah yang dihadapi, makin besar kebutuhan akan stratifikasi. Sistem stratifikasi agraris secara umum terdiri dari beberapa kelas masyarakat, yaitu; kelas elit ekonomi politik (penguasa dan tuan tanah), kelas penyewa, kelas pedagang, kelas rohaniawan, kelas petani, kelas seniman dan kelas sampah masyarakat.

Stratifikasi sosial dalam masyarakat industri biasanya memiliki tingkat stratifikasi yang lebih rendah dibandingkan dengan msyarakat agraris. Pendekatan konvensional dalam analisis Daniel Rossidies mengungkapkan adanya lima kelas mayoritas di Amerika Serikat yaitu : kelas atas, kelas menengah atas,  kelas menengah bawah,  kelas pekerja dan kelas bawah. Sekalipun pembagian tenaga kerja pekerjaan,  yang dilaksanakan dan perhatian terhadap pencapaian prestasi individu di negara kapitalias dan sosial sama, ada perbedaan sistem stratifikasi antara kedua masyarakat ini, yaitu :

1)    Dalam masyarakat sosialis, tingkat perbedaan pendapatan lebih rendah

2)    Dalam masyarakat sosialis, pekerja kantor rendah dianggap lebih rendah

3)    Dalam Masyarkat sosialis, kelas dominan lebih miskin dan tidak turun temurun

4)    Dalam masyarakat sosialis, tingkat perbedaan cultural rendah dan angka mobilitas sosial tinggi

5)    Dalam masyarakat sosialis, stratifikasi leboih banyak. Ini disebabkan oleh keputusan politik daripada pemilikan modal pribadi dan kekuatan pasar.

 

3.   Keterlekatan Perilaku Ekonomi Dalam Hubungan Sosial

Konsep keterlekatan diajukan oleh Granovetter (1985) untuk menjelaskan perilaku ekonomi dalam hubungan sosial. Konsep keterlekatan merupakan tindakan ekonomi yang disituasikan secara sosial dan melekat dalam jaringan sosial personal yang sedang berlangsung di antara para aktor. Hal ini dapat meliputi perilaku ekonomi yang lebih luas seperti penetapan harga daninstitusi-institusi ekonomi, yang semuanya terpendam dalam suatu jaringan hubungan sosial. Adapun yang dimaksud dengan jaringan hubungan sosial ialah sebgai suatu rangkaian hubungan yang teratur atau hubungan sosial yang sama diantara individu-individu atau kelompok-kelompok.

Menurut Polanyi dan kawan-kawan (1957) ekonomi dalam masyarakat pra industri melekat dalam institusi-institusi sosial, politik dan agama. Ini berarti bahwa fenomena seperti perdagangan, uang danpasar diilhami tujuan selain dari mencari keuntungan. Kehidupan ekonomi dalam masyarakat pra industri diatur oleh resiprositas dan redistribusi. Mekanisme pasar tidak dibolehkan untuk mendominasi kehidupan ekonomi, oleh karena itu permiantaan dan penawaran bukan sebagai pembentuk harga tetapi lebih kepad tradisi atau otoritas politik. Sebaliknya dalam masyarakat modern, pasar yang menetapkan harga diatur oleh suatu logika baru, yaitu logika yang menyatakan bahwa tindakan ekonomi tidak mesti melekat dalam masyarakat.

Dalam membahas keterlekatan ekonomi dalam masyarakat, Polanyi mengajukan tiga proses ekonomi, yaitu resiprositas, redistribusi dan pertukaran. Resiprositas menujuk pada gerakan di antara kelompok simetris yang saling berhubungan, yang terjadibila hubungan timbal balik antara individu-individu sering dilakukan. Redistribusi merupakan gerakan appropriasi yang bergerak ke arah pusat kemudian dari pusat didistribuasikan kembali. Hal ini terjadi karena adanya komunitas politik yang terpusat. Sedangkan pertukaran merupakan proses ekonomi yang berlangsung antara tangan-tangan di bawah sistem pasar. Dalam pasar dilakukan aktivitas perdagangan dengan menggunakan uang sebagai alat pertukaran dan mekanisme pasar ditentukan oleh pasar melalui permintaan dan penawaran.

Granovetter menegaskan bahwa keterlekatan perilaku ekonomi dalam hubungan sosial dapat dijelaskan melalui jaringan sosial yang terjadi dalam kehidupan ekonomi. Pada tingkatan individu, jaringan sosial dapat didefinisikan sebagai rangkaian hubungan yang khas di antara sejumlah orang dengan sifat tambahan, yang ciri-ciri dari hubungan ini sebagai keseluruhan yang digunakan untuk menginterpretasikan tingkah laku sosial dari individu-individu yang terlibat. Pada tingkatan struktur, memperlihatkan bahwa pola struktur hubungan meningkatkan dan atau menghambat perilaku orang untuk terlibat dalam berbagai macam arena kehidupan sosial.  Oleh karena itu, tingkatan ini memberikan suatu dasar untuk memahami bagaimana perilaku individu dipengaruhi oleh struktur sosial.

Keterlekatan yang terjadi dalam masyarakat pra inidustri dan ketidakterlekatan yang muncul pada masyarakat industri dapat dirangkum dalam tabel 3.1.

Tabel 3.1. Keterlekatan Ekonomi dan Masyarakat Berdasarkan Konsep Polanyi

Hubungan Keterlekatan Ekonomi dalam Organisasi Ketidakterlekatan Ekonomi dalam Organisasi
Ekonomi dan Komunitas Resiprositas – ekonomi melekat dalam hubu-ngan yang ter pusat pada kewajiban terha-dap komunitas. Redis-tribusi ekonomi mele-kat dalam komu nitas politik yang terpusat Pasar ekonomi tidak melekat pada komunitas melalui institusi-institusi, seperti pasar dan hak milik pribadi
Ekonomi dan Pemerintahan Resiprositas-ekonomi melekat dalam proses pengaturan suku yang termaktub dalam adat. Redistribusi-ekonomi melekat dalam aparat politik negara yang ter pusat dan kerajaan yang terbentuk mela-kukan kontrol geo- politik Pasar-ekonomi tidak melekat pada pemerintah- an melalui inte-gritas legal dari individu dan per-usahaan serta melalui ke-bebasan pasar dari dominasi politik
Ekonomi dan Rumah Tangga Resiprositas-ekonomi maupun rumah tangga melekat dalam komu nitas suku. Redis-tribusi-ekonomi dan rumah tangga melekat da lam komunitas po- litik yang terpusat. Pasar-ekonomi tidak melekat pada rumah tangga dalam arti “kerja” dan “rumah”, “pe-kerjaan” dan “waktu luang”.

Sumber: Damsar, 1997  

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Jelaskan kembali konsep-konsep sosio-ekonomi !
  2. Tuliskan kembali jenis-jenis masyarakat ekonomi dan jelaskan lebih lanjut !
  3. Uraikan dengan singkat dan sistematis tentang keterlekatan perilaku ekonomi dengan hubungan sosial !

 

BACAAN YANG DIANJURKAN

Damsar, 1997, Sosiologi Ekonomi, Edisi 1, RajaGrafindo Persada, Jakarta

Philipus, Ng., dan Aini, N., 2004, Sosiologi dan Politik, RajaGrafindo Persada, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: